Senin, 16 September 2019

SPECIAL~1~


Nama gue Teresa tapi biasanya teman teman manggil gue Tere. Gue adalah gadis biasa plus kadar kecuekannya tingkat tinggi menurut sahabat gye Echa sih. Gue kini berusia 15 tahun dan berada di bangku kelas X SMA. tepatnya baru satu sebupan lebih  gue berada di SMA ini SMA Tunas harapan. Banyak orang bilang masa masa SMA adalah masa masa yang paling indah dan menyenangkan. Yah itu sih kata orang kalau menurut gue sih


Biasa aja

Mungkin karena gue masih baru kali ya di SMA, tapi nggak taulah kedepannya. Di SMA ini anak kelas X sudah ditentukan jurusan peminatan untuk setiap murid, yah dan akhirnya kini gue berada di kelas IPA 2, sangat jauh dari ekspektasi. Gue berharap bisa masuk kelas bahasa, but it's just my dream. Ayah gue maunya gue di kelas IPA, so here I am, bergabung bersama kumpulan kutu buku di kelas IPA 2, tapi menurut gue sih kalau dilihat lihat masih mendingan di kelas ini deh. Solanya IPA 1 lebih serem menurut gue, kayanya mereka itu kumpulan orang orang titisan albert einstein. Soalnya mereka itu temanannya sama buku terus.

Pernah sih sekali gue lewat di depan kelas mereka, padahal belum ada guru yang masuk, tapi kelas mereka sunyi layaknya kuburan, karena setiap murid pada sibuk belajar sama buku mereka masing masing.

Mengapa gue mau ambil jurusan bahasa? karena gue sangat suka belajar bahasa, plus berharap bisa menguasai berbagai bahasa, seperti spanyol, inggris, and perancis. Selain itu gue juga pingin bisa kuliah di jurusan hubungan internasional kaya sepupu gue.
Tapi nggak apa apa sih. Tak ada rotan akar pun jadi, setidaknya gue bisa belajar itu semua otodidak. Jadi walaupun gue nggak masuk jurusan bahasa setidaknya gue bisa belajar itu semua sendiri.

Seperti sekarang ini, karena sekarang jam istirahat jadi gue ke perpustakaan nebeng wifi terus nonton youtube tentang percakapan bahasa inggris. Yah gue emang sengaja nonton terus gue ikutin cara bicaranya pelan pelan. Gue biasanya nonton pakai laptop gue, yang selalu gue bawa setiap hari ke sekolah.

Ceklek

Terdengar suara kamera yang terdengar dari arah kiri gue. Dan ternyata benar sesuai dugaan gue pemuda bermata empat, tengah berdiri dengan cengirannya sambil memegang sebuah kamera.

"Kiky, lo ngapain fotoin gue?"

"Gue suka, anglenya lagi bagus jadi gue fotoin deh,"

Kiky dia adalah teman sekelas gue plus tetangga gue. Rumah kita itu sekomplek dan juga saling berhadapan, jadi gue udah kenal dia dari kita masih bocah. Kiky hobinya emang fotografi. Anak SD kalau lagi bermain pasti bawa katapel, kelereng atau karet kalau Kiky mah beda sejak SD Kiky kalau kemana mana selalu bawa kamera polaroid, jadi kalau lagi saat saat tertentu dia pasti akan foto. Karena hobinya itu dia itu sering banget fotoin gue tanpa sepengetahuan gue kalau istilah anak zaman sekarang sih candid namanya.

Jadi kayanya setiap ekspresi tak terduga gue udah difoto semuanya. Yah seperti tadi saat dia fotoin gue saat gue lagi serius seriusnya. Maka dari itu tuh anak gue ajakin dia masuk ke ekskul jurnalistik, Jadi dia bisa masukin foto foto bagus di majalah dan blog sekolah.

"Ngapain lo di sini? serius amat," tanya Kiky sambil melihat beberapa hasi jeperetannya di kamera.

"Seperti biasa,"

"Hmm," bel tanda waktu istirahat selesai pun berbunyi, gue pun menutup laptop dan berjalan menuju kelas bersama Kiky.

"Ki, sebentar pulang bareng gue ya,"

"Tumben pulang nya bareng gue, biasanya sama Bang Arkan,"

"Dia lagi sibuk katanya lagi ngurusin motornya gitu,"

"Ohh gitu,"


🍂🍂🍂

Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, dan gue baru saja tiba di rumah setelah selesai mengikuti les yang mana udah gue jalanin sejak gue SMP kelas 1. Sebenarnya gue malas sih ngikutin les les kaya gini, tapi mau gimana lagi Ayah gue yang mau jadi ngikutin aja deh. Tapi satu hal yang gue syukurin sih, karena biar pun Ayah gue nggak ngijinin gue masuk jurusan bahasa setidaknya gue dikasi les bahasa inggris. Yah nggak selamanya apa yang gue jalanin adalah hal yang sia sia walaupun nggak 100 persen semuanya gue suka.

Saat gue tiba di rumah, nggak ada orang di rumah ini kecuali mbak Asih, asisten rumah tangga di rumah ini. Ayah gue lagi ada pekerjaan di luar kota, sedangkan abang gue, nggak tau kemana


Ah gue ingat sekarang.

Dia pasti lagi ada balapan. Abang gue itu emang anak motor hobinya balapan. Padahal Ayah udah sita motor abang gue karena baru baru Ayah harus ke kantor polisi karena bebasin abang yang ditahan karena berantem habis balapan.


OH MY GOD

Bentar lagi Ayah pulang dan bang Arkan belum pulang juga. Tamata riwayat abang kalau sampai Ayah pulang dan abang nggak ada di rumah. Karena abang juga dilarang keluar rumah kecuali ke kampus dan ngantar jemput gue. Gue pun langsung ngambil hape gue di meja dan menelpon abang gue segera.

Dan hasilnya nomor abang gue nggak aktif. Gue pun langsung menelpon seseorang.

"Halo bang Eza,"

"Eh Tere kenapa?"

"Bang Arkan lagi sama abang nggak?"

"Ia di lagi balapan sekarang,"

"Suruh bang Arkan pulang sekarang,"

"Nggak mungkin lah dia lagi balapan sekarang,"

"Share lokasi abang sekarang,"

"Mau ngapain?"

"POKOKNYA SHARE AJA,"

Gue kesel keadaan lagi darurat malah masih banyak tanya. Gue pun langsung menelpon Kiky minta dia buat ngantarin gue ke tempat balapan, tapi hasilnya nihil si kiky lagi ke rumah temannya. Kalau gue bisa ngendarain motor gue pasti udah langsung jalan, tapi apa daya Ayah nggak ngijinin gue bawa motor. Katanya nggak baik anak perempuan ngendarain motor bahaya.

Gue pun langsung memesan ojek online buat ngantarin gue ke tempat balapan. Setelah beberapa menit akhirnya gue tiba di tempat balapan. Jujur ini pertama kalinya gue ke tempat ginian, sumpah rame banget, dan banyak banget laki laki di tempat ini.

"Tere,"

"Bang Eza, "

"Ngapain lo ke sini? Ini udah malam Arkan bisa marah kalau lihat lo ke sini. Sini gue antarin lo pulang,"

"Gue nggak mau, gue mau jemput bang Arkan,"

"Arkan bukan anak kecil kali,"

"Ayah bentar lagi pulang,"

"Serius lo," gue pun mengangguk.

"Mampus," bang Eza aja kaget dengarnya, kayanya emang bang Arkan doang yang nggak takut sama Ayah, teman temannya aja takut. Mereka itu hanya berani ke rumah kalau Ayah lagi nggak ada, kalau Ayah ada mah mana berani mereka. Kata mereka Ayah itu kaya thanos. Yah kali ayah gue kaya thanos.

"Ya udah lo ikut gue ke sana, bentar lagi balapan selesai," gue pun mengikuti bang Eza dari samping. Tak lama kemudian terdengar suara teriakan dan semua orang berkumpul pada satu tempat, bang Eza pun berlari ke arah kerumunan tersebut, dan dari kerumunan tersebut muncul seorang pemuda jakung dengan pakaian serba hitam celana sobek plus rambut acak acakan. Dari situ gue sadar ternyata abang gue cakep banget, pantas aja banyak cewek yang ngejar ngejar abang gue.

"Re, kamu ngapain ke sini?"

"Ayah bentar lagi pulang,"

"Nggak apa apa, itu urusan abang,"

"Tapi aku nggak mau abang dimarahin dan dipukulin lagi sama Ayah," semenjak kepergian Ibu bang Arkan jadi berubah. Dia jadi dingin sedingin antartika, bang Arkan emang cuek, tapu tingakat kecuekannya semakin tinggi, dan dingin. Bang Arkan jadi seseorang yang keras kepala sehingga membut hubungannya dengan Ayah menjadi renggang.

"Ya udah kita pulang sekarang,"

"Tadi kamu ke sini naik apa?"

"Ojek online,"

"Nggak pake jaket,"

"Hehehe lupa soalnya buru buru banget,"
Bang Arkan pun melepaskan jaket kulitnya lalu ia kenakan ke gue.

"Eza, ini kunci motor lo, thanks ya. uangnya ada di gue nanti besok baru gue bagi ke lo,"

"Ay ay kapten," Bang Arkan sangat suka balapan maka dari itu biarpun motornya di sita Ayah bang Arkan masih balapan tapi pakai motornya bang Eza. Bang Arkan pun berjalan sambil menarik tangan gue pelan.

"Arkan woi," bang Arkan pun berhenti berjalan lalu menengok ke arah sumber suara.

"Apaan,"

"Wih rileks man, mentang mentang menang malam ini, lo jadi sombong aja," ucap seorang pria bertindik yang sedang duduk di atas motor ninjanya. Ia tidak sendirian ia bersama kumpulan para pria yang juga sedang duduk di atas motor mereka masing masing.

"Wih ada cewek cantik, kenalin dong sama kita kita," ucap pria itu sambil melihat ke arah gue. Gue pun hanya acuh, dan jujur gue agak risih di sini, mereka semua pada lihat ke arah gue sama bang arkan. Jujur gue nggak suka kalau diperhatiin kaya gini.

"Bang kita pulang aja," bisik gue ke bang Arkan.

"Kenalan sana sama kambing, ini ade gue jangan digangguin," gue pun terkekeh mendengarnya.

"Oh, sorry nggak tau kita kalau ternyata lo punya adik perempuan," Bang Arkan pun berjalan memegang tangan gue melewati kerumunan beberapa pria tersebut.

Saat gue berjalan ada seorang pemuda, kayanya dia seumuran sama gue, yang terus ngelihat ke arah gue. Horor gue jadinya, emang gue pisang dilihatin terus kaya gitu. Gue nggak peduli, gue pun masuk ke dalam mobil, dan saat gue lihat pemuda itu masih aja ngelihat ke arah mobil kiga, gue pun mengalihkan pandangan gue dan melihat ke arah jalanan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SPECIAL~1~

Nama gue Teresa tapi biasanya teman teman manggil gue Tere. Gue adalah gadis biasa plus kadar kecuekannya tingkat tinggi menurut sahabat...